Sekarang aku sudah memasuki dunia yang baru. Dunia yang belum pernah ku alami setiap kali aku mengalami kelulusan. Dunia kerja. Sudah seharusnya aku bekerja setelah sekian lama belajar, sejak usia 4 tahun sampai 24 tahun. Sepertiga dari usiaku sudah kuhabiskan untuk menempuh pendidikan formal. Tapi, aku ga tau mau ke mana aku setelah aku lulus ini. Bekerja di dunia sekuler atau sebagai full timer, aku belum mendapat kepastian. Sulit untuk memutuskan mana yang akan kupilih. Jika aku bekerja di dunia sekuler, sebagai arsitek misalnya, aku akan menghabiskan sebagian waktuku untuk bekerja, bekerja, dan bekerja. Walaupun itu akan mendapat hasil yang setimpal, uang banyak. Tapi, jika aku memutuskan untuk menjadi full timer untuk melayani Tuhan, banyak orang yang akan menganggap semua yang telah aku lakukan ini sia-sia. Terlebih orang tuaku. Kalo akhirnya cuma mau jadi pendeta/penginjil, kenapa dulu masuk arsitektur? Sudah berapa banyak uang keluar dari pendaftaran masuk, biaya kuliah dll, sampai biaya wisuda.
Memang, sudah sejak SMP dulu aku punya terpanggil untuk jadi Pastor. Aku hampir melanjutkan ke seminari ketika aku lulus SMP, tapi ga jadi karena menurut orang tuaku aku ga akan bisa tinggal jauh dari mereka. Aku pun melanjutkan sekolah di kota yang sama di mana aku tumbuh. Begitu juga ketika lulus SMA, aku ga boleh kuliah di luar kota. Begitulah kehidupanku yang selalu berada di kota ini.
Namun aku kembali diingatkan akan kerinduanku untuk mewartakan Kabar Sukacita. Walaupun sudah ga mungkin lagi untuk menjadi Pastor, tapi aku dibukakan sesuatu hal yang menurutku baru, yaitu tentmaker. Aku sempat berpikir, apa sih hubungannya tentmaker dengan arsitek? Masa sudah lulus kuliah di arsitektur cuma mau jadi tukang kemah/pembuat tenda? Tapi apa yang kupikirkan ternyata berbeda dengan yang Tuhan mau.
Istilah “tentmaker” sebenarnya muncul dari kehidupan St. Paulus. Ia terkadang membuat kemah untuk mencukupi kebutuhan selama ia mewartakan Injil. Walaupun St. Paulus diurapi dan diutus untuk mewartakan Injil, ia tidak dibiayai oleh gereja/lembaga di dalam pelayanannya. Maka dari itu untuk memenuhi kebutuhannya ia bekerja. “Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu.” (1 Tes. 2:9). Dalam perkembangannya, istilah “tentmaker” diterapkan pada misionaris yang bertugas ganda (bivocational). Namun hal ini terkesan bahwa pekerjaan yang disandangnya hanya sebagai kedok untuk menyembunyikan jatidiri sebagai misionaris dari orang-orang di sekitarnya. Perkembangan selanjutnya, istilah “tentmaker” diartikan sebagai “professional missionaries” yang memenuhi dua panggilan, yaitu sebagai profesional sekaligus sebagai misionaris. Atau istilah lainnya “bussionaries”, kombinasi kata bisnis dan misionari. Setiap bidang pekerjaan dapat menjadi peluang “Misi Tentmaker”. Dalam pelayanan “tentmaker” tidak perlu terjadi dikotomi. Maksudnya bukan menjadi pengusaha di saat bekerja dan menjadi pelayan firman pada hari Minggu, tapi bekerja sebagai pengusaha yang menghadirkan Injil.
Memang seharusnya seorang “tentmaker” memandang pekerjaannya bukan sebagai tanda status atau suatu jalan menuju sukses (dalam hal duniawi), tapi sebagai sebuah kunci untuk membuka pintu ke sebuah negri yang tertutup bagi pendekatan-pendekatan misioner tradisional. Akan lebih mudah seorang dokter yang menginjil kepada setiap pasien yang datang ketika berobat, daripada seorang misioner yang menginjil di daerah terpencil/daerah yang belum mengenal Kristus. Akan lebih diterima oleh orang banyak ketika kita datang sebagai orang yang memiliki identitas pekerjaan daripada orang yang memiliki identitas penginjil. Maksudnya, orang akan lebih menerima kita sebagai seorang manajer perusahaan atau seorang pedagang untuk membuat relasi dengan kita. Dan setelah relasi itu terjalin dan adanya kepercayaan dan keterbukaan, kita dapat menghadirkan Injil dari hubungan tersebut. Yang diperlukan dunia saat ini adalah orang-orang percaya yang bersedia mencari suatu pekerjaan khusus atau menggunakan ketrampilan yang ada supaya dapat menjangkau orang dengan Injil. Pastinya pekerjaan itu berhubungan dengan banyak orang dan “terpandang”. Walaupun pekerjaan itu berhubungan dengan banyak orang, seperti tukang bakso/tukang ojek, orang tidak akan percaya dengan apa yang kita sampaikan karena banyak orang menganggap orang-orang yang bekerja sebagai tukang bakso/tukang ojek tidak cukup terpandang. Tentu saja sangat sulit seseorang dapat menerima apa yang akan disampaikan (dalam hal ini Injil). Bidang kerja yang lain juga bisa menjadikan Injil sebuah peristiwa dan pengalaman “Kabar Baik” bagi penerimanya. Itulah yang menjadi inti “Misi Tentmaker”.
Inilah yang kudapat di saat akhir masa studiku di kampus dan ketika aku akan masuk ke dalam dunia pekerjaan. Sebagai orang yang bekerja di dunia sekuler pun kita tetap dapat mengabarkan Injil dan memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus.
Memang, sudah sejak SMP dulu aku punya terpanggil untuk jadi Pastor. Aku hampir melanjutkan ke seminari ketika aku lulus SMP, tapi ga jadi karena menurut orang tuaku aku ga akan bisa tinggal jauh dari mereka. Aku pun melanjutkan sekolah di kota yang sama di mana aku tumbuh. Begitu juga ketika lulus SMA, aku ga boleh kuliah di luar kota. Begitulah kehidupanku yang selalu berada di kota ini.
Namun aku kembali diingatkan akan kerinduanku untuk mewartakan Kabar Sukacita. Walaupun sudah ga mungkin lagi untuk menjadi Pastor, tapi aku dibukakan sesuatu hal yang menurutku baru, yaitu tentmaker. Aku sempat berpikir, apa sih hubungannya tentmaker dengan arsitek? Masa sudah lulus kuliah di arsitektur cuma mau jadi tukang kemah/pembuat tenda? Tapi apa yang kupikirkan ternyata berbeda dengan yang Tuhan mau.
Istilah “tentmaker” sebenarnya muncul dari kehidupan St. Paulus. Ia terkadang membuat kemah untuk mencukupi kebutuhan selama ia mewartakan Injil. Walaupun St. Paulus diurapi dan diutus untuk mewartakan Injil, ia tidak dibiayai oleh gereja/lembaga di dalam pelayanannya. Maka dari itu untuk memenuhi kebutuhannya ia bekerja. “Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu.” (1 Tes. 2:9). Dalam perkembangannya, istilah “tentmaker” diterapkan pada misionaris yang bertugas ganda (bivocational). Namun hal ini terkesan bahwa pekerjaan yang disandangnya hanya sebagai kedok untuk menyembunyikan jatidiri sebagai misionaris dari orang-orang di sekitarnya. Perkembangan selanjutnya, istilah “tentmaker” diartikan sebagai “professional missionaries” yang memenuhi dua panggilan, yaitu sebagai profesional sekaligus sebagai misionaris. Atau istilah lainnya “bussionaries”, kombinasi kata bisnis dan misionari. Setiap bidang pekerjaan dapat menjadi peluang “Misi Tentmaker”. Dalam pelayanan “tentmaker” tidak perlu terjadi dikotomi. Maksudnya bukan menjadi pengusaha di saat bekerja dan menjadi pelayan firman pada hari Minggu, tapi bekerja sebagai pengusaha yang menghadirkan Injil.
Memang seharusnya seorang “tentmaker” memandang pekerjaannya bukan sebagai tanda status atau suatu jalan menuju sukses (dalam hal duniawi), tapi sebagai sebuah kunci untuk membuka pintu ke sebuah negri yang tertutup bagi pendekatan-pendekatan misioner tradisional. Akan lebih mudah seorang dokter yang menginjil kepada setiap pasien yang datang ketika berobat, daripada seorang misioner yang menginjil di daerah terpencil/daerah yang belum mengenal Kristus. Akan lebih diterima oleh orang banyak ketika kita datang sebagai orang yang memiliki identitas pekerjaan daripada orang yang memiliki identitas penginjil. Maksudnya, orang akan lebih menerima kita sebagai seorang manajer perusahaan atau seorang pedagang untuk membuat relasi dengan kita. Dan setelah relasi itu terjalin dan adanya kepercayaan dan keterbukaan, kita dapat menghadirkan Injil dari hubungan tersebut. Yang diperlukan dunia saat ini adalah orang-orang percaya yang bersedia mencari suatu pekerjaan khusus atau menggunakan ketrampilan yang ada supaya dapat menjangkau orang dengan Injil. Pastinya pekerjaan itu berhubungan dengan banyak orang dan “terpandang”. Walaupun pekerjaan itu berhubungan dengan banyak orang, seperti tukang bakso/tukang ojek, orang tidak akan percaya dengan apa yang kita sampaikan karena banyak orang menganggap orang-orang yang bekerja sebagai tukang bakso/tukang ojek tidak cukup terpandang. Tentu saja sangat sulit seseorang dapat menerima apa yang akan disampaikan (dalam hal ini Injil). Bidang kerja yang lain juga bisa menjadikan Injil sebuah peristiwa dan pengalaman “Kabar Baik” bagi penerimanya. Itulah yang menjadi inti “Misi Tentmaker”.
Inilah yang kudapat di saat akhir masa studiku di kampus dan ketika aku akan masuk ke dalam dunia pekerjaan. Sebagai orang yang bekerja di dunia sekuler pun kita tetap dapat mengabarkan Injil dan memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar