Selasa, 17 Februari 2009

Siapa Pria Berkendi Itu?

Markus 14 : 12-14. Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Kristus berkata kepada-Nya: "Ke tempat mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?" Lalu Ia menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan: "Pergilah ke kota; di sana kamu akan bertemu dengan seorang yang membawa kendi berisi air. Ikutilah dia dan katakanlah kepada pemilik rumah yang dimasukinya: Pesan Guru: di manakah ruangan yang disediakan bagi-Ku untuk makan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku?


Pria Berkendi

Bagi kita ayat-ayat ini mungkin lewat begitu saja tanpa kesan apa-apa, karena terjemahan dalam bahasa Indonesia tidak membedakan gender. Namun kejadian ini sebenarnya adalah hal yang sangat tidak biasa atau sangat aneh untuk masa itu, bahkan untuk ukuran sekarang sekalipun, karena orang yang membawa kendi itu adalah seorang pria.

Pada masa itu mengambil/ membawa air adalah tugas wanita. Kalau kita baca kisah-kisah yang berhubungan dengan sumur dan urusan mengambil air dalam kendi, selalu berhubungan dengan wanita, misalnya Ribka ketika bertemu hamba Abraham, Musa ketika bertemu Zipora, atau kisah Kristus dengan perempuan Samaria. Dan harap diingat bahwa jaman itu tidak mengenal emansipasi, hal gender dengan fungsi/ kedudukannya dibedakan dengan sangat jelas. Jadi seorang pria membawa air dalam kendi, dan mestinya membawanya dengan cara menaruh di atas kepala seperti yang dilakukan wanita-wanita, adalah hal yang sangat kontroversial.

Mari kita berandai-andai. Ingat bahwa berlogika itu perlu untuk melatih kita berpikir obyektif, jernih, terbuka, thinking out of the box, bukan hanya menerima indoktrinasi saja. Apakah pria dalam kisah itu hanya khusus bawa kendi berisi air pada hari itu, supaya gampang dikenali (Jelas gampang karena berapa banyak pria pada masa itu yang cukup gokil untuk bawa-bawa kendi berisi air di tengah kota?).

Kalau memang begitu, kenapa harus dengan cara itu? Apa tidak bisa dengan cara yang less kontroversial/ "scandalous" ? Kenapa tidak dengan ciri-ciri tertentu pada pakaian, atau penutup kepala, atau lainnjya. Kenapa mesti begitu "kreatif" dan penuh sensasi?

Ataukah pria itu memang tiap hari kerjanya bawa kendi berisi air untuk ngisi tempayan? But what kind of guy would ever do that back then? Why would he humiliate himself to do women's job ? (women was at the lower class in that society). Mungkin pria ini memang kewanita-wanitaan. Mungkin pria itu memang banci.

Dan kenapa hal ini harus dicatat dalam kitab Injil? apakah hanya kejadian acak biasa yang tidak punya makna apa-apa.? Mungkin Kristus sekedar iseng saja untuk bercanda dengan murid-murid-Nya? Atau apa?

Apalagi perjamuan ini adalah perjamuan yang sangat penting, karena ini adalah perjamuan terakhir sebelum Kristus diserahkan. Perjamuan kudus/ ekaristi yang dikenang dan dirayakan semua orang Kristen sepanjang sejarah.

Tidakkah kita melihat bagaimana kasih Kristus yang sangat besar bagi orang-orang yang sebenarnya tidak masuk hitungan pada jaman itu? Bagaimana iya mengangkat harkat wanita, mau menolong hamba perwira Romawi yang mungkin bukan siapa-siapa, bagaimana Dia mau berhubungan bahkan tinggal bersama orang-orang Samaria yang dianggap najis pada waktu itu, bagaimana iya makan dan minum bersama pelacur dan pemungut cukai dan "orang-orang berdosa lainnya".

Dan Yesus Kristus tidak pernah menghakimi mereka, Dia selalu menunjukkan kasih-Nya sekalipun karena itu dia dicemooh oleh pemuka-pemuka agama pada waktu itu.

Bisakah kita melihat bahwa pada saat-saat terakhir ketika Dia akan diserahkan untuk disalibkan, Dia masih ingat pada Pria Berkendi ini. Dia mau Pria Berkendi ini terlibat pada persiapan perjamuan terakhir. Dia ingin murid-muridNya tahu bahwa Guru mereka menerima Pria Berkendi ini, sehingga mereka harus menerimanya juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar